Sumber: http://www.seociyus.com/2013/02/kode-javascript-dan-html-sederhana-buat-di-blog.html#ixzz4FohENZc0 Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Follow us: @SEOCiyus on Twitter

Sabtu, 31 Desember 2011

LOVELY DECEMBER-Masih Terkendala Transportasi dan Akomodasi

Sejumlah penari memepersembahkan tari Pagellu pada Festival Budaya Toraja Lovely December 2011, di Rantepao, Toraja Utara, kemarin.

MAKASSAR– Lovely December resmi ditutup dengan pesta kembang api di Rantepao, Toraja Utara, tadi malam. Kembang api yang menelan anggaran ratusan juta rupiah itu diluncurkan dari ketinggian di Bukit Singki, dekat proyek pembangunan Salib Raksasa, yang saat masih dalam tahap perampungan. Peluncuran kembang api ini diklaim tertinggi di Asia. Namun, dibalik kemegahan ini sejumlah kendala masih terjadi dalam pelaksanaan Lovely December setelah kali ketiga dilaksanakan di daerah ini.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan, sarana transportasi masih menjadi kendala dalam pelaksanaan event Desember yang kali ketiga dilaksanakan ini. Karena itu, kata dia, salah satu proyek yang kini sedang digenjot pembangunannya adalah Bandara Pontiku di Makale Kabupaten Tana Toraja. “Jika bandara sudah selesai, wisatawan akan semakin banyak yang berkunjung ke Toraja.

Wisatawan mancane-gara bisa langsung ke Toraja dan tidak perlu singgah di Makassar,” kata Syahrul saat puncak Lovely December 2011 di Lapangan Sepakbola Kodim 1414 Rantepao,kemarin. Menurut Syahrul,pihaknya sudah membicarakan dengan pihak Changi Airport dan Pataya soal langkah awal rencana penerbangan ke Toraja, “Setelah ada airport di Toraja, wisatawan akan mengalir ke Toraja, baik dari Malaysia, Singapura dan Hongkong,”ujarnya.

Selain masalah transportasi, sarana penunjang lainnya yakni penginapan belum memadai untuk menampung semua wisatawan baik mancanegara maupun wisatawan nusantara. Sepanjang Lovely December ini semua kamar hotel di Tana Toraja dan Toraja Utara terisi penuh. Syahrul menyarankan kepada masyarakat di daerah ini turut serta menyediakan sarana penginapan bagi wisatawan dengan home stay.

“Tidak perlu banyak hotel berbintang. Kita bisa memberdayakan masyarakat dengan home staysehingga program pariwisata bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar mantan bupati Gowa dua periode ini. Kepala Dinas Pariwisata Sulsel Suaib Mallombasi mengakui, Lovely December 2011 ini masih dalam bentuk simulasi. Pelaksanaan tahun ini, kata dia, akan menjadi bahan evaluasi untuk tahun depan yang lebih semarak.

Dia menjelaskan infrastruktur wisata masih sangat memprihatinkan, antara lain, akses jalan dari Makassar- Toraja yang belum rampung.“ Jalur transportasi Makassar- Toraja belum baik. Selain itu, belum ada penerbangan dari luar. Kalau promosi akan terus kita lakukan melalui brosur maupun event baik di dalam mapun di luar negeri,” katanya. Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung mengatakan,ke depan bukan hanya budaya yang dijual kepada wisatawan namun dikembangkan pada wisata alam.

Dia mengatakan, Tana Toraja memiliki keindahan alam yang tak ada duanya di dunia. “Konsep wisata alam yang memiliki potensi dan ini yang akan dikembangkan ke depan,”katanya. Pantauan SINDOdi Tana Toraja dan Toraja Utara sepanjang pelaksanaan Lovely December ini,sejumlah ruas jalan di pusat ibu kota dipenuhi kendaraan mobil dan sepeda motor. Bahkan,SPBU di dua kabupaten bertetangga ini mengalami kekurangan stok bahan bakar jenis bensin. Siang kemarin, puncak Lovely December di Lapangan Sepakbola Kodim 1414 Rantepao berlangsung meriah.

Ribuan warga menyaksikan sejumlah atraksi budaya dipertunjukkan antara lain tari massal,permainan rakyat sisambak lidi, karnaval budaya,atraksi musik bambu, dan pemeran pembangunan. Gubernur Syahrul dan beberapa tamu penting lainnya sempat ikut dalam tari massal. Hadir pula artis ibu kota Bela Safira, dan artis KDI yang menghibur hadirin.

Selain Gubernur Sulsel, tamu penting lainnya antara lain, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Mayjen Pol Gories Mere,Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Muhammad Nizam, Kapolda Sulselbar Irjen Pol Johny Wainal Usman, anggota DPR RI Markus Nari, dan beberapa bupati dan wali kota se Sulsel. Selain itu, hadir pula Wakil Duta Besar Jerman untuk Indonesia Bidang Ekonomi Heidrun Tempel,serta Staf Ahli Bidang Multikultural Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Hari Untoro Drajat.

Seluruh rangkaian Lovely December 2011 ditutup dengan pesta kembang api yang diperkirakan menghabiskan anggaran ratusan juta hingga Rp1 miliar. Sehari sebelumnya, di Makale, Tana Toraja,ribuan warga juga berkumpul untuk menyaksikan pesta kembang api. Warga memenuhi jalan-jalan di ibu kota kabupaten ini.

Selama enam menit kembang api diluncurkan dari Gereja Manggasa Makale Tanah Toraja membuat langit bumi Lakipadada bermandi cahaya. Informasi yang diterima SINDO, anggaran yang digunakan untuk pesta kembang api ini mencapai Rp500 juta. Bupati Tanah Toraja Theofilus Allorerung mengakui,dana yang dibutuhkan untuk pesta kembang api tersebut ratusan juta.“Tapi,saya rasa tidak sampai Rp500 juta,”kata dia.

IOF Ambil Bagian

Ratusan kendaraan jeep dari Indonesia Off Road Federation (IOF) Sulsel melakukan touring dari Makassar tiba di Makale.Rombongan ini dipimpin oleh Ketua Umum IOF yang juga Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang. Dalam rombongan juga diikuti oleh Kapolda Sulselbar Irjen Pol Johny Wainal Usman.

Agus Arifin Nu’mang mengatakan, sedikitnya 204 kendaraan jeep yang touring dari Makassar melewati jalan nasional untuk menyemarakkan Lovely December 2011.“Sudah lama saya membawa sendiri mobil di jarak jauh seperti ini,” ujar Agus. Selain rombongan dari Makassar, IOF Luwu yang dipimpin Bupati Luwu,Andi Mudzakkar juga membawa rombongan yang cukup banyak. “Kalau dari Luwu ada 70 motor ATV, dan 21 mobil. Kami berangkat dari Belopa,”kata dia.

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com
READ MORE - LOVELY DECEMBER-Masih Terkendala Transportasi dan Akomodasi

Senin, 26 Desember 2011

Prabowo Dianugerahi Gelar Bangsawan Toraja

Keluarga besar Sang Torayaan akan menganugerahi gelar Bangsawan Toraja kepada Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto Djojohadikusumo pada Rabu (28/12/2011) mendatang.

Kehadiran Prabowo di Tana Toraja sekaligus akan menjadi momem partai mempersiapkan diri menghadapi Pemilihan Gubernur Sulsel 2013 nanti. Ketua DPD Gerindra Rudiyanto Asapa disebut-sebut bakal menjadi kontestan Pilgub Sulawesi Selatan (Sulsel).

Wakil Ketua Gerindra Sulsel, Suwardi Tahir, menjelaskan tujuan utama kehadiran Prabowo di Toraja untuk menyaksikan prosesi pemakaman ibu mertua Ketua DPD Gerindra Sulsel, Rudiyanton Asapa, Sia Indo' Agnes Sarungallo.

Namun demikian ia tidak menampik ada rencana pertemuan khusus Prabowo dan segenap unsur partai di tingkat DPC dan DPD Sulsel untuk membahas persiapan keikutsertaan Rudiyanto di Pilgub.

"Tujuan utamanya untuk memenuhi undangan Keluarga besar Pak Ketua, tapi memang akan ada pertemuan khusus di luar itu. Bisa jadi soal rencana Bapak maju di pilgub atau juga soal pencapresan Ketua Dewan Pembina, mungkin saja itu," kata Suwardi, Minggu (25/12/2011).

Prabowo akan tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada Rabu (28/12/2011) mendatang kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat carter menuju Tana Toraja. Sedangkan beberapa pengurus teras DPP Gerindra seperti Ketua Umum Prof Dr Suhardi, Sekjen Ahmad Muzani, anggota DPR RI Permadi, dan Sufmi Dasco Ahmad dan beberapa lainnya, akan datang bergelombang mulai Senin (26/12/2011).

Menurut Suwardi, pengurus teras DPP Gerindra akan diinapkan di Makassar terlebih dahulu sebelum bertolak ke Tana Toraja. DPD Gerindra Sulsel telah menyiapkan segala kebutuhan elite DPP di Makassar.

Selain itu, pengurus DPC Gerindra se-Sulsel juga akan berkumpul di Tana Toraja untuk mengikuti rapat konsolidasi partai bersama DPD dan DPP yang dipimpin langsung Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto.

Sumber : www.trubunnews.com
READ MORE - Prabowo Dianugerahi Gelar Bangsawan Toraja

Minggu, 25 Desember 2011

Bentrok Berdarah Polisi-Warga di Bima

Pengunjuk rasa berhadapan dengan polisi sebelum bentrok berdarah di Pelabuhan Sape, Bima, NTB, kemarin.

Bentrokan berdarah terjadi antara aparat kepolisian dengan warga di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), kemarin. Akibat bentrokan, 2 orang tewas dan 22 orang terluka.

Dari keterangan yang diperoleh di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima, tempat jenazah disemayamkan, tertera dua nama korban tewas, yakni atas nama Arifrahman,18, dan Syaiful, 17, keduanya warga Desa Suni,Kecamatan Lambu,Kabupaten Bima,di pengujung timur Pulau Sumbawa. Namun, ada saksi mata menginformasikan bahwa seorang korban tewas lainnya dalam insiden di Pelabuhan Sape itu adalah Immawan Ashary, 20, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) NTB.

Bentrok antara polisi dengan warga berawal dari enggannya para pengunjuk rasa meninggalkan Pelabuhan ASDP Sape.Pelabuhan tersebut telah diduduki sejak Senin, 19 Desember lalu. Dari pantauan di lapangan, polisi yang berjumlah sekitar 300 personel awalnya melakukan upaya persuasif untuk meminta warga yang menolak pertambangan milik PT Sumber Mineral Nusantara agar membubarkan diri. Diduga upaya tersebut mengalami jalan buntu hingga petugas yang berasal dari Brimob Kabupaten Dompu, Kabupaten Sumba, Kabupaten Mataram,NTB,dan Gegana dari Brimob Mataram melakukan upaya pembubaran paksa.

Bentrok antarwarga dengan polisi tidak terhindarkan. Selain korban tewas, terdapat 22 orang luka-luka.Beberapa korban dilaporkan menderita luka tembak. Para korban bentrok tersebut telah dirujuk ke RSUD Bima, NTB. Sebagian korban juga ada yang masih dirawat di Puskesmas Kecamatan Lawo. Pascabentrokan, aparat juga melakukan penyisiran di areal Pelabuhan Sape. Sebagian aparat melakukan pemblokiran jalan dari arah selatan atau Kecamatan Lambu yang berbatasan dengan Kecamatan Sape.

Di sini, polisi menghalau pengunjuk rasa dengan menggunakan kawat berduri. Konsentrasi massa kemudian berpindah ke Kecamatan Lambu. Massa melakukan perusakan dan pembakaran sejumlah fasilitas pemerintah, yakni Kantor Camat Lambu. Termasuk beberapa rumah warga yang diduga pendukung eksplorasi tambang tersebut. Diketahui, tindakan pendudukan pelabuhan diawali dengan tuntutan warga kepada Bupati Bima, Ferry Zulkarnaen. Bupati diminta mencabut izin pertambangan PT Sumber Mineral Nusantara.

Namun Ferry mengaku tidak bisa mencabut izin tersebut dan hanya bisa melakukan penghentian eksplorasi selama setahun. Atas perbedaan pendapat tersebut,aparat kepolisian dan Pemerintah Bima telah melakukan tindakan persuasif, tetapi tidak membuahkan hasil.Akhirnya pada Senin, 19 Desember sampai kemarin warga menutup Pelabuhan Sape. Akibatnya, aktivitas di pelabuhan selama hampir sepekan lumpuh. Sejumlah kendaraan yang ada di dalam kapal penyeberangan tidak bisa keluar dari pelabuhan akibat pendudukan pelabuhan oleh massa.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman menginformasikan, aparat telah mengamankan tiga orang yang diduga sebagai provokator. ”Provokator yang ditangkap adalah H,A alias O,dan Sy,”kata Saud dalam pesan singkatnya kemarin. Selain itu, pihak kepolisian telah meminta keterangan kepada 31 orang di Polres Bima. Perinciannya, 25 dewasa dan 6 anak-anak. Saud mengatakan, polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti aksi bentrok antara massa dengan pihak kepolisian Polda NTB.

”Barang bukti yang disita di antaranya parang sebanyak 10 buah,sabit 4,tombak 1,bom molotov 1,dan bensin 2 botol,”katanya. Saud juga mengungkapkan, Bupati dan aparat kepolisian sebenarnya telah melakukan negosiasi, tetapi selalu menemui jalan buntu.”Sudah melaksanakan negosiasi secara berulang-ulang, tapi massa bergeming sepanjang kedua tuntutannya tidak terpenuhi,” ungkapnya. Saud membeberkan, aksi yang dilakukan massa yang menamakan diri kelompok Front Reformasi Anti-Tambang (FRAT) tersebut memanfaatkan wanita dan anak-anak.

”Perempuan dan anak-anak dijadikan tameng oleh massa di penyeberangan feri,” kata jenderal bintang dua itu. Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli tidak membantah bahwa polisi melakukan penembakan terhadap para pengunjuk rasa saat melakukan pembubaran massa di Pelabuhan Sape. Penembakan tersebut dilakukan sebagai upaya membela diri aparat di lapangan. ”Karena massa menyerang sehingga petugas di lapangan melakukan upaya pembelaan diri,”kata Boy saat jumpa pers di Mabes Polri kemarin.

Boy mengatakan, hingga kemarin sore petugas di lapangan masih melakukan pengamanan di Pelabuhan Sape. ”Keadaan sudah kondusif dan pengamanan masih diintensifkan,” tuturnya. Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Bidang Eksternal Nurkholis mengatakan, Komnas HAM sejak awal sudah menduga kemungkinan tindak kekerasan di Bima.”Pekan lalu kita sudah mengatakan bahwa kejadian di Bima berpotensi memunculkan kekerasan dan pelanggaran HAM,” ujarnya kemarin.

Dia mengungkapkan, potensi tersebut muncul setelah adanya demo di Pelabuhan Penyeberangan ASDP Sape. Menurut Nurkholis, sampai kemarin Komnas HAM masih terus menggali informasi sebenarnya hingga kasus di Bima tersebut menelan korban. ”Kita masih kumpulkan informasi,” ujarnya. Nurkholis menyatakan, jika informasi tentang kasus di Bima sudah detail,Komnas HAM bisa saja menurunkan tim pencari fakta.”Kita lihat nanti,bisa saja kami menurunkan tim pencari fakta,”imbuhnya.

Menurut Nurkholis, hingga kemarin, Komnas HAM melalui jejaring yang ada di Bima masih terus mengusahakan negosiasi dengan pihak keamanan dan masyarakat. ”Karena yang terpenting saat ini (kemarin) adalah agar tidak ada lagi bentrok dan tidak ada lagi korban,”ujarnya. Di Jakarta, beberapa kalangan LSM dan aktivis mendesak Presiden SBY segera mengeluarkan perintah resmi menghentikan dan mencabut izin pertambangan PT Sumber Mineral Nusantara dan menghentikan kekerasan di Bima.

Mereka juga meminta Presiden SBY segera mengeluarkan perintah resmi untuk menarik dan mengevaluasi seluruh aparat TNI-Polri di lokasi konflik sumber daya alam itu. ”Presiden SBY perlu segera menghentikan aktivitas perusahaan yang berkonflik dan berpotensi konflik hingga ada kepastian penyelesaian secara struktural dengan membentuk panitia nasional penyelesaian konflik agraria dan sumber daya alam,” kata Ridwan Darmawan dari Indonesia Human Rights Committee for Sicial Justice (IHCS).

Ridwan juga mendorong DPR segera menggunakan hak interpelasinya untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah atas dugaan pelanggaran HAM di sektor agraria dan sumber daya alam. Lebih lanjut, Ridwan menyatakan bahwa untuk menindaklanjuti kasus itu,Komnas HAM dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memastikan perlindungan hukum terhadap korban karena indikasi kekerasan ini akan meluas. Kepala Departemen Advokasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Mukri Fitriana mengutuk aksi kekerasan aparat negara terhadap warga NTB yang menuntut hak-hak rakyat.

Walhi juga sangat menyayangkan kekerasan oleh aparat kembali terulang. ”Kasus ini tidak bisa ditangani Polri karena kejadian tersebut melibatkan aparat keamanan sehingga kasus ini harus ditangani langsung oleh Presiden karena Presiden bertanggung jawab terhadap kasus ini,” ujarnya di Jakarta kemarin. Menurut dia, kasus seperti ini bukan hal baru terjadi di NTB dan daerah lain di Indonesia. Belum lama kasus perebutan lahan yang mengakibatkan korban jiwa akibat ulah aparat keamanan terjadi di Mesuji, Lampung dan Sumatera Selatan.

Di Jakarta, Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin menyesalkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga Sape dan Lambu di Bima akibat tindak kekerasan aparat keamanan. ”Ini sungguh mengenaskan. Mengapa selalu berulang dan berulang kejadian seperti itu,” kata Lukman kepada SINDO kemarin. Lukman menyatakan, sepertinya aparat tidak bisa belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Sistem dan pola deteksi dini dan penanganan keamanan harus dievaluasi dan benar-benar dicermati kembali.

”Amanah konstitusi yang menempatkan Polri sebagai alat negara yang melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat serta menegakkan hukum harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com
READ MORE - Bentrok Berdarah Polisi-Warga di Bima

Jumat, 23 Desember 2011

Jelang Natal, Angkutan PO ke Tana Toraja Penuh

Kursi yang tersedia pada perusahaan otobis (PO) di Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa hari jelang Natal 2011 sudah penuh.

Pemantauan pada perusahaan otobis (PO) Manggala Trans yang hanya melayani jurusan Tanatoraja dan Toraja Utara, kursi pemberangkatan tanggal 19 hingga 30 Desember sudah penuh.

Tomas Layuk, seorang petugas tiket PO Manggala Trans di Makassar, Kamis, mengatakan, sejak pekan lalu calon penumpang sudah membeli tiket untuk pemberangkatan ke Tanatoraja dan Toraja Utara.
"Kursi sudah penuh kecuali ada calon penumpang batal berangkat," ujarnya.

Begitu pula di PO Fa. Litha, kursi jurusan ke Tanatoraja dan Toraja Utara yang penduduknya mayoritas beragama Kristen sudah penuh tanggal 19 hingga 24 Desember 2011.

"Kursi sudah penuh untuk pemberangkatan tanggal 19-24 Desember," ungkap Serly, petugas bagian tiket PO Fa. Litha.

Sementara kursi untuk tujuan bagian utara Sulsel seperti Palopo, Lamasi, Bone-Bone hingga Malili masih tersedia.

Seorang calon penumpang asal Tanatoraja, Anton, terpaksa membeli tiket tujuan Palopo karena kursi sudah penuh ke Toraja untuk pemberangkatan hari ini.

"Saya harus berangkat hari ini karena sudah mulai cuti, terpaksa tambah ongkos dari Palopo ke Toraja, yang penting cepat sampai ke kampung halaman untuk merayakan Natal bersama keluarga," kata Anton.

Sumber : http://www.antara-sulawesiselatan.com/
READ MORE - Jelang Natal, Angkutan PO ke Tana Toraja Penuh

Dunia Pendidikan Tana Toraja, Memprihatinkan

Perkembangan dunia Pendidikan Tana Toraja Sungguh sangat memprihatinkan. Tana Toraja yang dulunya dikenal dengan mutu pendidikannya yang sering mencetak pelajar-pelajar yang handal, saat ini berada pada urutan ke-22 dari 23 Kabupaten/kota dalam daftar kualitas pendidikan. Hal tersebut terungkap saat Dewan Pendidikan Tana Toraja menyampaikan hasil evaluasi tertanggal 3 Desember 2011.

Yohanis Titting, Kepala Dinas Pendidikan Tana Toraja, yang baru saja dilantik pada senin (19/12) lalu mengatakan "Keterpurukan dunia pendidikan di Tana Toraja mungkin dikarenakan oleh ketiadaan Kepala Dinas selama empat tahun, Atau mungkin juga karena terjadinya alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran".Katanya

Ditambahkannya, terpuruknya mutu pendidikan di Tana Toraja membuatnya harus bekerja keras. "Saya harus mengencangkan berkreasi mendorong para tenaga pendidik di semua tingkatan untuk mengikuti pelatihan dalam meningkatkan sumberdaya dan penerapan pendidikan sesuai standar," tambahnya.

Sementara itu, Alexander Pantan Rante Allo, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Tator, mengatakan, bahwa terpuruknya kualitas pendidikan di Tana Toraja sangat menyedihkan.
"Fenomena pendidikan mengalami kemunduran di Tana Toraja. Kondisi ini harus menjadi perhatian Bupati Theofilus Allorerung. Kesadaran tenaga pendidik dalam menjalankan tugasnya harus terus didorong," katanya.
READ MORE - Dunia Pendidikan Tana Toraja, Memprihatinkan

Senin, 19 Desember 2011

Ilham Bertemu Keluarga Besar di Toraja

Ketua DPD Demokrat Sulsel yang juga bakal calon Gubernur Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin berkunjung ke Tana Toraja, Minggu (18/12/2011). Di Toraja, Ilham bertemu dengan keluarga besarnya yang bermukim di Batu Lau, Kecamatan Sangalla Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, Ilham bertemu dengan keluarga besar Puang Sondang yang juga merupakan bagian dari keluarga leluhur Ilham. Ilham mengklaim merupakan keturunan langsung dari Puang Sondang alias Puang Rondo Rondo dari Ibunda Ilham Siti Djohra.

Bangsawan Toraja ini adalah tokoh yg cukup berpengaruh dalam merekatkan umat beragama di Toraja. Puang Sondang adalah satu dari Puang Pitu ( tujuh pangeran) Toraja. Dari tujuh puang ini hanya Puang Rondo-Rondo yang Muslim.

Selain silaturahmi, Ilham juga melakukan ziarah di makam Puang Sondang yang baru selesai direnovasi.

Salah satu kerabat Ilham, Johana Batara membacakan silsilah garis keturunan Puang Sondong. "Dengan berkumpulnya seluruh keluarga besar di sini, maka tidak akan ada lagi yang bisa membantah bahwa Pak Ilham adalah bagian terdalam dari keluarga besar Tana Toraja" ujar Johana.

Ilham datang ke Tanah Toraja bersama keluarganya, termasuk ibunya, istri, dan empat orang anaknya.

Salah satu tokoh masyarakat Toraja, Fajar Londong Allo, mengatakan, mereka sengaja datang menemui Ilham untuk menyatakan dukungan pada Wali Kota Makassar tersebut. "Sudah lama kami mendengar prestasi Pak Ilham di Makassar. Untuk itu kami berkumpul disini untuk menyampaikan rasa bangga atas adanya putra Toraja yang sukses memimpin Kota Makassar," ujar Fajar

Sumber : http://makassar.tribunnews.com
READ MORE - Ilham Bertemu Keluarga Besar di Toraja

Sabtu, 17 Desember 2011

Akibat Longsor di Desa Sillanan, Tana Toraja, Biaya Transportasi Melonjak

Hujan deras yang mengguyur selama sepekan di Tana Toraja menyebabkan terjadinya longsor di desa Sillanan, Kecamatan Gandangbatu sillanan, Kabupaten Tana Toraja. Propinsi Sulawesi Selatan, Jumat (16/12). Akibatnya beberapa desa di tiga kecamatan, masing-masing Kecamatan Gandangbatu Sillanan, Kecamatan Mengkendek dan Kecamatan Rano terisolir.

Salah satu bukit yang berada di Desa Sillanan runtuh dan menutup jalan utama yang menyebabkan arus transportasi dan perekonomian masyarakat dari ketiga kecamatan tersebut menuju ibu kota Kabupaten Tana Toraja, Makale terputus. Akibat lain yang ditimbulkan dari kejadian ini adalah meningkatnya biaya transportasi masyarakat. hal ini adalah karena masyarakat yang hendak menuju ke kota Makale, harus memutar sehingga biaya transportasi menigkat menjadi dua kali lipat.

Pemerintah daerah yang diharapkan segera dapat mengatasi masalah ini, tidak segera memberikan tanggapannya. Pemerintah Daerah dianggap sangat telat mengirimkan alat berat untuk menyingkirkan material longosor yang menutup badan jalan.
READ MORE - Akibat Longsor di Desa Sillanan, Tana Toraja, Biaya Transportasi Melonjak

Rabu, 07 Desember 2011

2 Kelurahan di Makale Selatan Belum Nikmati Listrik

Warga di Kelurahan Pasang dan To’sapan, Kecamatan Makale Selatan, Kab. Tana Toraja, belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, seperti usia kemerdekaan Republik Indonesia yang telah memasuki usia ke-66 tahun. Pasalnya, kedua kelurahan, sampai saat ini belum dapat menikmati penerangan listrik seperti kelurahan-kelurahan lainnya. Di saat listrik telah dinikmati di beberapa desa tetangganya, dua warga desa tersebut malah bernasib berbeda.

Daniel, 49, warga Kelurahan Pasang, Kec. Makale Selatan mengungkapkan, hingga saat ini dusun yang ia tempati belum teraliri listrik. Praktis, jika malam hari, dusun yang berada di pinggiran hutan itu gelap gulita. Dia juga mengakui tanaman warga yang ditanam di kebun warga sering dirusak kawanan babi hutan yang masih banyak berkeliaran di sekitar Kelurahan Pasang dan To’sapan. Ketiadaan listrik ini berakibat pula pada aktivitas belajar siswa di rumah yang sangat terganggu karena tidak adanya penerangan.Anak sekolah harus membaca dan belajar hanya diterangi lampu minyak tanah. Ditambahkannya bahwa, untuk mendapatkan satu liter minyak tanah, warga harus morogih kantong hingga Rp 60.000 karena akses jalan yang tidak baik.Pasalnya, warga harus membeli minyak tanah ke Kota Makale dengan menyewa ojek karena daerahnya belum terjangkau kendaraan umum.

Camat Makale Selatan Rosaria Dammen, yang dihubungi terpisah mengatakan, akibat belum tersentuh aliran listrik, ratusan keluarga menggunakan lampu tempel sebagai sumber penerangan pada malam hari. “Warga di Kelurahan Pasang dan To’sapan sangat mendambakan menikmati listrik untuk penerangan pada malam hari,”katanya.

Dia berharap Pemkab Tana Toraja membantu warga memenuhi kebutuhan akan listrik. Paling tidak, dibangun turbin sebagai pembangkit listrik untuk penerangan rumah warga.
READ MORE - 2 Kelurahan di Makale Selatan Belum Nikmati Listrik

Senin, 05 Desember 2011

Warga Bunuh Diri di Kurra

Masyarakat Lemb. Lipungan Tanete Kec. Kurra Kab. Tana Toraja, dikejutkan dengan ditemukannya mayat yang diduga bunuh diri dengan jalan menggantung diri.

Korban diketahui bernama Petrus Tangke (25 Tahun).

Menurut sumber di tempat kejadian perkara, Korban di temukan oleh saudaranya Yunus Tangke (40 Thn) yang berprofesi sebagai Petani.

Menurut keterangan dari keluarga korban bahwa korban meninggalkan rumah sejak hari sabtu (3/12) sekitar pukul 09.00. Dari keterangan keluarga korban diketahui bahwa selama ini korban mengalami penyakit Sarampa atau cacar dan mata sebelah kiri korban menjadi rabun oleh penyakit tersebut. Tindakan bunuh diri korban ini adalah yang kedua kalinya. kali pertama korbann mencoba bunuh diri dengan jalan minum racun serangga namun berhasil digagalkan oleh keluarga. namun tidak disangka korban mengulangi tindakannya tersebut sehingga menyebabkan korban meninggal dunia.

Dari hasil identifikasi oleh sat Reskim Res Tana Toraja, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.
READ MORE - Warga Bunuh Diri di Kurra
KOMENTAR TERBARU

Subscribe

Masukkan Alamat E-mail Anda:

Delivered by Toraja Update