Sumber: http://www.seociyus.com/2013/02/kode-javascript-dan-html-sederhana-buat-di-blog.html#ixzz4FohENZc0 Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Follow us: @SEOCiyus on Twitter

Selasa, 20 September 2011

Satgas Pembebasan Lahan bandara Toraja Mengundurkan Diri

Pembebasan lahan Bandara Udara (Bandara) Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, tidak kunjung selesai. Hal itu terjadi karena banyaknya protes yang diterima Tim 9 dan DPRD Tana Toraja, pada hearing atau Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi I dengan Tim 9 pekan lalu.

Dalam RDP tersebut terungkap beberapa persoalan yang menjadi penghambat proses pembebasan lahan bandara.

Panitia Tim 9 dan Satuan Tugas (Satgas) yangbertanggungjawab penuh dalam pembebasan lahan bandara seluas 140 ha itu, kini telah membayar kepada pemilik lahan sekitar Rp 20.535.150.000. Sedangkan sisanya seluas 51 ha ditunda karena masih ada permasalahan internal antara ahli waris sebesar Rp14.587.907.330.

Satgas yang beranggotakan sebanyak 146 orang yang merupakan perwakilan dari semua unsur telah bekerja selama enam bulan dengan honor Rp2,7 juta.

Meskipun masa tugasnya belum selesai, namun satu persatu diantara mereka mulai mengundurkan diri. Sikap itu diambil karena banyaknya masalah yang terjadi.

Salah seorang yang sudah resmi melayangkan surat pengunduran diri kepada Tim 9 pada 10 September 2011 lalu adalah Laurel Andi Lolo, perwakilan tokoh masyarakat.

Ditemui BKM di Makale, Sabtu (17/9), Laurel Andi Lolo, menjelaskan, Surat Keputusan (SK) pengangkatan dirinya sebagai salah satu anggota satgas, baru diterimanya pada 9 September 2011, usai hearing dengan Komisi I DPRD Tana Toraja.

Diakui Laurel Andilolo, keputusannya mengundurkan diri dari keanggotaan Satgas diambil setelah mendengar beberapa keterangan yang berkembang selama hearing. Dia nilai ada sejumlah kejanggalan.

Selain proses ganti rugi yang dinilainya tidak sesuai peta yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional (BPN), yang ditandatangani oleh Kepala BPN Tana Toraja, juga ada ganti rugi tanah yang diterima oleh warga yang bukan berhak menerimanya.

Demikian pula soal terjadinya pemalsuan tanda tangan pemilik lahan, maupun proses pembayaran yang dinilai bertentangan dengan Peraturan Presiden No 36 tahun 2005.

Ketua Tim 9 yang juga Sekkab Tana Toraja, Enos Karoma, ketika dikonfirmasi melalui ponselnya, justru mengaku, kaget mendengar informasi pengunduran diri anggota Satgas. Soalnya, menurut dia, masa tugasnya belum selesai.

Meskipun salah seorang anggota Satgas perwakilan tokoh masyarakat mengundurkan diri, lanjut Enos Karoma, dia berharap tidak berimplikasi terhadap keberadaan anggota Satgas lainnya.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, besarnya biaya ganti rugi lahan permeter untuk tanah kering bersertifikat sebesar Rp25.000 permeter, sedangkan nonsertifikat Rp21.390.

Sementara untuk tanah basah bersertifikat seluas 180 mater bujursangkar nilainya Rp40.250.000, nonsertifikat Rp35.000. Jumlah itu sudah termasuk biaya pelepasan hak 1,5 persen, dengan total biaya pembebasan bandar udara Rp 38 miliar lebih.

Bahkan, ahli waris Puang Mengkendek telah mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Makale, terkait kasus kepemilikan lahan di Pitu Lombok Pitu Tanete, yang masuk kawasan lahan bandara.


sumber : BKM-Online

1 komentar:

  1. Inikan jadi lucu, setelah masa tugas selesai yaitu bulan juni, barulah bulan september mundur,hehehehe, bahkan katax mau kembalikan honor yg telah diambl walaupn ktx tdk pernah lihak SK, jangan mengada-ada,bung Lole...LSM LEKAT

    BalasHapus

Terima Kasih telah berkunjung ke Toraja Update.
Silahkan tinggalkan Komentar Anda...!!!

KOMENTAR TERBARU

Subscribe

Masukkan Alamat E-mail Anda:

Delivered by Toraja Update