Sumber: http://www.seociyus.com/2013/02/kode-javascript-dan-html-sederhana-buat-di-blog.html#ixzz4FohENZc0 Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Follow us: @SEOCiyus on Twitter

Selasa, 21 Juni 2011

Kearifan Lokal, Filosofi Dasar Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang Tana Toraja

Rencana Tata Ruang Kabupaten Tana Toraja mengangkat kearifan lokal untuk mewujudkan wilayah tersebut sebagai peneduh dunia. Ini didorong oleh ketersediaan kawasan hutan kabupaten dengan luas 53,20 persen serta tumbuh berkembangnya sistem kehidupan Tongkonan yang merupakan dinamika harmonis hubungan antar manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Hal tersebut mengemuka dalam Pembahasan Kegiatan Peningkatan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Tana Toraja, di Jakarta.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Tana Toraja Gerson Papalangi, penekanan RTR pada budaya kearifan lokal sistem Tongkonan disebabkan karena sistem tersebut memuat keseimbangan antar tujuh elemen yang keseluruhan merupakan unsur pengembangan wilayah. Gerson menegaskan, kearifan lokal sistem Tongkonan sudah membudaya di masyarakat Tana Toraja sehingga dirasa tidak sulit untuk mewujudkan wilayah tersebut sebagai peneduh dunia. Tujuh elemen dalam sistem Tongkonan antara lain banua merambu (rumah), sumber air, sawah dan perkebunan, peternakan dan perikanan, hutan, rante (lapangan upacara adat), serta banua tang merambu (makam).

Pada pembahasan ini disoroti mengenai pentingnya pariwisata yang menjadi ekonomi unggulan Tana Toraja. Untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata, diperlukan peningkatan prasarana bandara, yaitu dengan membangun bandara baru di sekitar Desa Buntu Kunyi, Kecamatan Mangkendek. Selain itu peningkatan prasarana jaringan jalan yang menghubungkan Tana Toraja dengan Kawasan Metropolitan Mamminasata dan Kota Mamuju juga perlu ditingkatkan sebagai urat nadi pengembangan ekonomi wilayah Tana Toraja. Kasubdit Pembinaan Perencanaan Tata Ruang Provinsi dan Kabupaten Wilayah III Agus Hendro juga menyatakan dukungannya dalam peningkatan prasarana bandara dan jaringan jalan di Tana Toraja guna peningkatan pengembangan wilayah.

Di kesempatan yang sama juga dipaparkan konsep pengembangan Kawasan Strategis Makula dan Kota Makale yang menjadi simpul utama pengembangan pariwisata Kabupaten Tana Toraja. Kawasan Makula direncanakan sebagai pusat pelestarian budaya Tongkonan dengan didukung sebuah tempat pemandian air panas. Sementara di Kota Makale direncanakan sebagai pengembangan pusat kesenian (Art Center) di lokasi bekas pasar di pusat kota. Untuk pengembangan pariwisata Kawasan Wisata di Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara diusulkan juga peningkatan jalur lingkar pariwisata yang mengelilingi kedua kabupaten tersebut.

Direktur Penataan Ruang Wilayah III Wahyono Bintarto berujar bahwa penataan ruang adalah membangun sinkronisasi tatanan lingkungan dengan komunitasnya yang produktif, adaptif, kreatif dengan kearifan lokalnya dalam proses peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya bangun dan kelestarian lingkungan mikro yang mendukung kelestarian makro. Diharapkan dengan peningkatan penataan ruang wilayah ini selain mewujudkan Tana Toraja sebagai peneduh dunia juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sumber : admintaru_050110

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih telah berkunjung ke Toraja Update.
Silahkan tinggalkan Komentar Anda...!!!

KOMENTAR TERBARU

Subscribe

Masukkan Alamat E-mail Anda:

Delivered by Toraja Update